đŸŠȘ Analisis Puisi Aku Karya Chairil Anwar

Analisis Puisi-puisi Chairil Anwar banyak menggunakan diksi “Aku” yang bermakna bahwa dalam puisi-puisinya tersebut selalu menggambarkan isi hatinya, menggambarkan keadaan dirinya. Antara puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” dan puisi “Prajurit Jaga Malam” sama-sama menceritakan mengenai perjuangan pada masa tersebut. Sedang dengan cermin aku enggan berbagi. (Derai-derai Cemara, 2000) Analisis Puisi Penerimaan Karya Chairil Anwar Berdasarkan Pendekatan Objektif. 1. Analisis Unsur Intriksik Puisi Penerimaan Karya Chairil Anwar. · Tema: Kasih sayang. Karena puisi ini mengagambarkan perasaan cinta dan sayang tokoh “aku” kepada tokoh “kau” sehingga mau Artikeldan berita tentang analisis puisi berjudul aku karya chairil anwar berada pada daftar posting yang telah dipublis pada situs ini, namun mungkin anda belum menuliskan kata kunci yang tepat, bila belum menemukan yang sesuai dengan analisis puisi berjudul aku karya chairil anwar, Anda dapat melakukan pencarian dengan kata kunci yang lain, pada search di situs AnalisisGaya Bahasa Puisi Merdeka. Sajak-sajak angkatan 45 banyak menggunakan gaya bahasa hiperbola, daripada gaya bahasa yang lain. Sajak “Merdeka” di atas dominan menggunakan gaya bahasa hiperbola hal ini dapat dilihat dari isi puisi tersebut, yaitu: a) pada bait kedua yang berbunyi: “Aku percaya pada sumpah dan cinta. menjadi sumsum KumpulanPuisi Chairil Anwar. AkuKalau sampai waktuku‘Ku mau tak seorang ‘kan merayuTidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalangDari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitkuAku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlariBerlariHingga hilang pedih peri Dan akan akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Ø Penggunaan Bahasa Dalam pengungkapan puisi diatas penyair menggunakan bahasa yang khas yaitu pemberani yang ingin bebas dari semua ikatan disana .Penyair tidak mau terhasut rayuan dari siapapun. Ana lisis Puisi Aku Berada Kembali Karya Chairil Anwar. Puisi ini menjelaskan bagaimana modernisasi dan perkembangan teknologi berdampak kepada kehidupan manusia dipinggir pantai. Seiring dengan perkembangan teknologi, khususnya kendaraan dengan menggunakan energi berupa minyak, manusia membuat kilang-kilang minyak di pantai untuk 1. ANALISIS INTERTEKSTUALITAS PUISI ”KUSANGKA” KARYA AMIR HAMZAH DENGAN PUISI “PENERIMAAN” KARYA CHAIRIL ANWAR Oleh :Samsul arifin NPM : (110401080093) FAKULTAS KEGURUAN DAN LIMU PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG 2011/2012. 2. Tanggal 26 Juli kemarin menjadi hari bersejarah ketika sang penyair legendaris Chairil Anwar lahir pada tahun 1928 silam. Ia aktif dalam menyebarkan karya Puisi di masa pembentukan Indonesia merdeka sejak tahun 1942 sampai 1949.. Melansir dari tempo.co, dalam dunia sastra, puisi-puisinya terbilang popular dan masih sering dibacakan oleh banyak . ï»żSiapa yang tidak mengenal nama seorang Chairil Anwar sebagai salah satu penyair melegenda Indonesia yang karya-karyanya mampu menginspirasi banyak orang. Beliau bahkan telah menciptakan 96 karya dan 70 di antaranya adalah puisi yang dalam setiap karyanya selalu mempunyai makna yang mendalam. Salah satu karya Chairil Anwar yang paling fenomenal ialah puisi berjudul “Aku” yang dalam salah satu baitnya terdapat kalimat “Aku ini binatang jalang”. Bahkan, akibat karyanya tersebut Chairil Anwar sampai memperoleh julukan “Si Binatang Jalang” dari sahabat-sahabatnya. Puisi-puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar sendiri mempunyai beragam tema, mulai dari individualisme, kematian, hingga eksistensialisme. Masing-masing puisi yang ditulis juga selalu disusun menggunakan kata-kata yang puitis dan mempunyai makna yang mendalam untuk diresapi serta direnungkan. Lalu, apa saja puisi Chairil Anwar yang paling melegenda dan bermakna? Berikut 10 puisi Chairil Anwar yang bisa kamu baca. 10 Puisi Chairil Anwar 1. Aku Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi 2. Dendam Berdiri tersentak Dari mimpi aku bengis dielak Aku tegak Bulan bersinar sedikit tak nampak Tangan meraba ke bawah bantalku Keris berkarat kugenggam di hulu Bulan bersinar sedikit tak nampak Aku mencari Mendadak mati kuhendak berbekas di jari Aku mencari Diri tercerai dari hati Bulan bersinar sedikit tak tampak 3. Diponegoro Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati. MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu. Sekali berarti Sudah itu mati. MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api. Punah di atas menghamba Binasa di atas ditinda Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai. Maju. Serbu. Serang. Terjang. 4. Bercerai Kita musti bercerai Sebelum kicau murai berderai. Terlalu kita minta pada malam ini. Benar belum puas serah-menyerah Darah masih berbusah-busah Terlalu kita minta pada malam ini. Kita musti bercerai Biar surya kan menembus oleh malam di perisai Dua benua bakal bentur-membentur Merah kesumba jadi putih kapur Bagaimana? Kalau IDA, mau turut mengabur Tidak samudra caya tempatmu menghambur. 5. Merdeka Aku mau bebas dari segala Merdeka Juga dari Ida Pernah Aku percaya pada sumpah dan cinta Menjadi sumsum dan darah Seharian kukunyah-kumamah Sedang meradang Segala kurenggut Ikut bayang Tapi kini Hidupku terlalu tenang Selama tidak antara badai Kalah menang Ah! Jiwa yang menggapai-gapai Mengapa kalau beranjak dari sini Kucoba dalam mati. 6. Dalam Kereta Dalam kereta. Hujan menebal jendela Semarang, Solo..., makin dekat saja Menangkup senja. Menguak purnama. Caya menyayat mulut dan mata. Menjengking kereta. Menjengking jiwa, Sayatan terus ke dada. 7. Malam Mulai kelam belum buntu malam, kami masih saja berjaga -Thermopylae?- -jagal tidak dikenal?- tapi nanti sebelum siang membentang kami sudah tenggelam hilang.... 8. Kepada Pelukis Affandi Kalau, ku habis-habis kata, tidak lagi berani memasuki rumah sendiri, terdiri di ambang penuh kupak, adalah karena kesementaraan segala yang mencap tiap benda, lagi pula terasa mati kan datang merusak. Dan tangan kan kaku, menulis berhenti, kecemasan derita, kecemasan mimpi; berilah aku tempat di menara tinggi, di mana kau sendiri meninggi atas keramaian dunia dan cedera, lagak lahir dan kelancungan cipta, kau memaling dan memuja dan gelap-tertutup jadi terbuka! 9. Malam di Pegunungan Aku berpikir Bulan inikah yang membikin dingin, Jadi pucat rumah dan kaku pohonan? Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan! 10. Di Mesjid Kuseru saja Dia Sehingga datang juga Kami pun bermuka-muka. Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada. Segala daya memadamkannya Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda Ini ruang Gelanggang kami berperang Binasa-membinasa Satu menista lain gila. Jika kamu ingin membaca karya Chairil Anwar lainnya, maka Aku Ini Binatang Jalang bisa menjadi koleksi buku sastra yang tepat. Langsung saja pesan dan beli bukunya di 0% found this document useful 0 votes638 views3 pagesDescriptionini puisi yang telah di ciptakan oleh chairil anwar pencipta puisi legenda di indonesia tercinta iniCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOC, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes638 views3 pagesAnalisi Puisi Aku Karya Chairil AnwarDescriptionini puisi yang telah di ciptakan oleh chairil anwar pencipta puisi legenda di indonesia tercinta iniFull description 100% found this document useful 3 votes6K views9 pagesDescriptionanalisis puisi aku chairil anwarCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 3 votes6K views9 pagesAnalisis Puisi Aku Chairil AnwarJump to Page You are on page 1of 9 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 8 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.

analisis puisi aku karya chairil anwar